Klenteng Tay Kak Sie menembus Puluhan Generasi

Oleh : Kwa Tong Hay & Lia Zhang

Klenteng Tay Kak Sie ini bermula pada tahun 1746 dari sebuah rumah pemujaan yang diberi nama Kwan Im Ting dengan diprakarsai oleh pedagang besar bernama Khouw Ping (许鹏). Dulunya berlokasi di samping balai kambang, di tengah kerimbunan pohon asam. Waktu itu tempat tersebut masih terpencil, namun sekarang menjadi Gang Belakang, tepatnya berada di tengah antara Cap-kau-king atau Jln. Wotgandul Timur dengan Gg. Cilik. Adapun pendirian rumah pemujaan yang disebut Kwan Im Ting (观音亭) bertujuan untuk memudahkan masyarakat Semarang dalam melakukan upacara sembahyang termasuk ibadah rutin yang dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan imlek (che-it & cap-go).

Di masa itu, perjalanan ke Gedung Batu dari daerah Pecinan terasa jauh serta tidak aman sehingga dirasa perlu untuk mendirikan tempat pemujaan sekaligus tempat beribadat yang lebih mudah dicapai. Dengan berkembangnya kota Semarang, lambat laun rumah penduduk bermunculan dan Kwan Im Ting akhirnya berada di tengah pemukiman penduduk yang semakin padat. Sehingga pada setiap che-it dan cap-go Kwan Im Ting ini menjadi pusat keramaian. Bukan hanya saat pagi dan siang, malam hari pun banyak orang bersembahyang di sana. Lokasi Kwan Im Ting di samping balai kambang ini berada di antara Jalan Wotgandul Timur (Cap-kauw-king) sekarang, dengan Gg. Cilik, jadi tepatnya di tengah-tengah Jalan Gg. Belakang. Dan selama 200 tahun balai kambang (kolam besar) / bangunan yang berada di tengah kolam ini masih dipertahankan keberadaannya di lokasi tersebut. Namun dengan berkembangnya daerah Pecinan di Semarang, kolam tersebut menjadi tempat pembuangan sampah hingga tidak terurus dan kotor. Maka pada tahun 1966 tempat itu ditutup untuk umum, didirikan pagar bumi dan akhirnya kolam tersebut ditimbun. Lalu di tempat tersebut telah didirikan bangunan milik swasta yang berfungsi sebagai gudang.

Berkembangnya Kota Semarang membuat Kwan Im Ting makin ramai, terutama saat bulan purnama. Pada tahun 1753 terjadi peristiwa menggemparkan yang disebabkan oleh pertikaian dua rombongan pemabuk yang kalah judi. Secara tidak terduga kedua rombongan ini berpapasan di halaman Kwan Im Ting, hingga terjadi baku-hantam yang menimbulkan korban jiwa.

Peristiwa ini mengundang reaksi keras dari beberapa tokoh yang cukup berpengaruh di Semarang seperti Tan Eng 陈英 dan Oei Ce 黄井. Khouw Ping meminta bantuan mereka untuk menyelesaikan kasus ini, dan kedua kelompok penjudi tersebut dapat didamaikan. Namun terjadinya peristiwa berdarah ini membuat keberadaan lokasi Kwan Im Ting harus ditinjau kembali. Akhirnya, setelah diadakan pembicaraan secara luas dan matang, secara bulat diputuskan untuk memindah Kwan Im Ting ke tempat lain. Proses pemindahan dan pembangunan klenteng baru tersebut, Khouw Ping 许鹏 pendanaan dibantu oleh beberapa hartawan lain antara lain Liem Yam Kong 林炎光, Tan Kong Hoey陈光辉, Tan Tjeng陈正, Tan Thoat Gwan 陈夺元.

Di tahun 1771, atas petunjuk ahli fengshui dipilihlah sebuah tanah lapang yang luas di pinggir sungai yang pada masa itu berupa kebun lombok. Pada tahun itu juga, dimulai pembangunan dengan bahan baku termasuk tukang serta arca para dewa didatangkan dari Tiongkok. Pekerjaan pembangunan ini memakan waktu lebih dari satu tahun. Akhirnya pada tahun 1772, klenteng itu telah berdiri dengan nama Tay Kak Sie大覚寺 yang berarti Kuil Kesadaran Agung, sedangkan masyarakat umumnya menyebutnya sebagai “Klenteng Besar”.

Papan nama Tay Kak Sie大覚寺 yang sampai sekarang ini, tertera inkripsi Daoguang dingwei nian 道光丁未年, yang merupakan anugerah dari kaisar dinasti Qing – Daoguang Era tahun 1847.

Sebelumnya klenteng Tay Kak Sie juga telah mendapat anugerah papan inskripsi bertuliskan “Nanhai liufang – 南海流芳” yang berarti “Membawa keharuman di Laut Selatan” yang tertera tahun Jiaqing shi jiu nian 嘉庆十九年 atau tahun 1814.

Pemindahan rupang dan abu dari Kwan Im Ting ke Tay Kak Sie, dirayakan dengan diadakannya sembahyang besar dan pawai yang meriah. Waktu itu, dari Batavia (Jakarta) didatangkan pemain wayang Potehi untuk mengadakan pertunjukan sampai dua bulan lamanya. Hal ini juga merupakan pertunjukan Potehi pertama di Semarang.

Rupanya, kehadiran Tay Kak Sie membuat suasana pecinan tambah semarak, perdagangan pun semakin maju. Di Kali Koping (diambil dari nama Khouw Ping) yang di masa itu masih lebar, perahu hilir mudik, berlabuh serta bongkar muat barang. Tak hanya itu, Tay Kak Sie dianggap dalam beberapa kali telah menghindarkan bencana Dan malapetaka bagi penduduk Semarang dan sekitarnya.

Sekitar tahun 1826 misalnya, waktu itu masih dalam suasana Perang Diponegoro sehingga keamanan sangat rawan. Zaman itu belum ada surat kabar atau radio sehingga kabar-kabar angin tentang adanya gerombolan pengacau yang mau menjarah Semarang membuat suasana semakin mencengkam. Kawanan itu sebelumnya telah membuat kerusuhan dan pembantaian di Kudus dan Demak. Para pemuka masyarakat Pecinan yang dipimpin oleh Kapitan Tan Tiang Tjhing (陈长青) akhirnya mengajukan permintaan kepada pemerintah supaya diijinkan memasang pintu besar di empat penjuru jalan masuk ke Pecinan sehingga bisa ditutup dan dijaga bila benar terjadi kerusuhan. Satu pintu di ujung Sebandaran, dan di mulut jalan Cap-kauw-king, Beteng. Lalu yang ketiga di ujung barat Pecinan Lor (Gang Warung), dan yang keempat di seberang jembatan Pekojan. Empat pintu gerbang tersebut dibuat sedemikian kuatnya dengan dilapisi tembok tebal di bagian pinggirnya hingga tak mudah dijebol. Setiap malam penghuni Pecinan dibantu dengan masyarakat Koja mengadakan penjagaan dan ronda di sekitar wilayah ini. Berita yang terdengar waktu itu semakin menakutkan, kaum perusuh telah sampai di Kaligawe. Hal itu membuat masyarakat Tionghoa dan Koja bersiap mengadakan perlawanan begitu para pengacau masuk Semarang. Untuk mengantisipasi bila terjadi kekalahan dan menghindarkan anak isteri dari penistaan oleh kaum perusuh, mereka dikumpulkan di klenteng Tay Kak Sie agar memperoleh perlindungan dari para sinbing dan mereka pun siap berkorban bila keadaan sudah tidak bisa dipertahankan. Para pemuda Tionghoa dan Koja bersenjata lengkap, bergerak ke Gedangan, sengaja untuk mencegat bila kaum perusuh yang kabarnya sudah sampai Kaligawe bergerak masuk ke Semarang.  Untunglah setelah kewaspadaan ditingkatkan sampai setengah bulan, tidak terjadi insiden yang berarti, dan keadaan berangsur-angsur aman kembali.

Akhir tahun 1845, Kapitan Tan Hong Yan (陈烽烟) dan Mayor Bhe Eng Ciu (马荣周), mengajak Khouw Giok Sun 许玉顺 , seorang saudagar besar di Gg. Warung untuk mendirikan Kong Tik Soe 功德祠  (rumah abu) berlokasi di samping kanan Tay Kak Sie.

Tujuan pendirian Kong Tik Soe sekaligus pemugaran Tay Kak Sie yang pertama, tercatat pada sebuah prasasti batu yang ada di samping kiri Kong Tik Soe, yang berisi;

”Kebijakan para raja berbudi memaparkan jika mereka mendahulukan kepentingan rakyat barulah para dewata akan memberi anugerah. Dengan demikian, setiap orang di kota besar maupun kecil wajib memuliakan dewata. Tujuannya adalah memohon anugerah kejayaan negara dan kesejahteraan negeri.

Klenteng Tay Kak Sie yang berada di Semarang dianggap sebagai tubuh orang Tionghoa dan menjadi pelindung daerah Pecinan. Hal ini dikarenakan posisi Semarang sebagai sentral wilayah: di timur bisa sampai daerah Surabaya, ke barat bisa mencapai Pekalongan, Tegal dan Cirebon. Lanjut ke selatan, Semarang terhubung dengan Magelang, Purworejo, Yogya, Solo, dan Banyumas. Ke arah utara, Semarang terhubung dengan mancanegara (Bu-tee: batas-batas negara).

Dengan keberadaan Semarang yang strategis ini, maka diharapkan orang-orang dari berbagai penjuru bisa sembahyang memohon anugerah dewata. Hal inilah yang kemudian melatar belakangi pembangunan Klenteng Tay Kak Sie.Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Tuan Tan Boen-wi mendirikan klenteng ini di Pekojan. Bangunan klenteng dimakan usia. Berbagai kerusakan terjadi: dari belandar dan tiang yang keropos, dinding yang roboh, genting bocor, hingga fondasi yang menurun terkena banjir di musim penghujan. Banjir ini juga menyebabkan bangunan menjadi amblas, terlihat miring dan retak. Melihat kerusakan yang kian parah, maka diusulkan diadakan renovasi. Perbaikan dilakukan di bagian yang keropos dan rusak, lalu diadakan pengaturan tata warna dan ukiran-ukiran hingga menjadi indah seperti sedia kala.

Setelah perbaikan klenteng usai, maka dipertimbangkanlah rencana mendirikan Kong Tik Soe untuk orang-orang yang memerlukannya. Bagian tengah gedung digunakan untuk sembahyang sin-ci (abu leluhur) bagi dermawan yang turut andil dalam pembangunan klenteng dari awal hingga selesai. Bagian pinggir kemudian diperuntukkan bagi sin-ci orang-orang yang tidak memiliki ahli waris. Pendirian gedung ini bertujuan untuk memberi pertolongan bagi orang-orang yang mengalami kesusahan di perjalanan. Siapapun mereka: lelaki, perempuan, anak-anak yatim piatu. Mereka juga membantu dengan mendirikan sekolah khusus anak-anak fakir. Amanat inilah yang kemudian dilaksanakan sepanjang masa.

Pendirian Kong Tik Soe diadakan bersamaan dengan renovasi Tay Kak Sie. Tujuannya adalah untuk memberitahukan kepada generasi mendatang tentang amanat yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Dengan harapan para dermawan akan terus mendukung kegiatan mulia ini.

Semoga tempat-tempat suci di mana kita bersembahyang ini terus berdiri tegap dan kokoh. Para dewata dan roh-roh suci akan selalu mengaruniakan anugerah mereka. Sementara nama-nama para dermawan akan selalu terpatri di papan batu ini sepanjang waktu.”

To Kong tahun It-ci(道光乙己)bulan Cia Gwee (Desember 1845)

Tertanda

Mayor Tan King Lim陈敬麟 & Mayor Be Cing Gwee马正魁

Bersama dengan pendirian Kong Tik Soe tersebut, Tay Kak Sie juga dipugar secara menyeluruh. Pada prasasti ini tercatat tahun To-kong it-ci cia gwee (Daoguang yiji道光乙己正月) atau tahun 1845. Prasasti tersebut ditandatangani oleh Mayor Tan King Lim (陈敬麟) dan Mayor Be Cing Gwee (马正魁)—Tan King Lin dan Be Cing Gwee adalah nama lain yang dipakai Tan Hong Yan dan Bhe Eng Ciu.

Selain dari para saudagar yang telah disebut sebelumnya, dana untuk pemugaran Tay Kak Sie dan pendirian Kong Tik Soe juga didapat dari sumbangan masyarakat luas. Nama-nama para penyumbang tersebut kemudian dipahat pada prasasti batu yang sekarang masih ada di kanan gedung Kong Tik Soe. Dari yang terbesar sampai yang terkecil tercatat totalnya ada 123 penderma.

Gedung Kong Tik Soe dibangun dengan terbagi jadi tiga ruangan. Sebelah barat digunakan sebagai kantor Kong-koan, dikenal dengan nama Tjie Lam Tjay atau kantor untuk mengurus segala masalah yang ada hubungannya dengan masyarakat Tionghoa. Waktu itu kongkoan belum mendapat pengakuan sah. Pengakuan itu sendiri baru terjadi pada tahun 1885.  Ruangan di bagian tengah gedung dipakai untuk tempat Sin-ci (Papan arwah leluhur) dan abu bagi keluarga yang berdana guna pembangunan gedung itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, gedung Kong Tik Soe juga pernah dipakai untuk menampung kaum pengungsi dan memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka. Pendidikan tersebut terdiri dari pelajaran selayaknya sekolah normal serta kursus ketrampilan seperti menjahit dan membuat sepatu. pengusahaan pendidikan tak berbayar ini kemudian berkembang menjadi pendidikan normal dengan kurikulum sekolah negeri setingkat SD dan SMP yang dikelola oleh Yayasan Khong Kouw Hwee.

Belakangan, namun masih di zaman Mayor Be Biauw Tjoan, Kong Tik Soe dijadikan sebagai stichting alias yayasan. Sejak itu penempatan Sin-ci terbuka untuk umum dari bermacam marga dengan mengisi dana kas sesuai tempat yang dipilih. Jadi, Kong Tik Soe terbuka untuk semua she (marga), tidak seperti rumah abu lain misalnya She Hoo Kiong yang khusus untuk marga Lim, Tek Hay Bio atau klenteng She Kwee, maupun Tan Seng Ong atau klenteng  untuk She Tan.

 Catatan pemugaran-pemugaran Tay Kak Sie selanjutnya tercatat pada 3 buah prasasti batu yang ada di halaman klenteng Tay Kak Sie.




Pada tahun 1860. Mayor Tan Tjong Hoay yang usaha dagangnya waktu itu sangat maju berinisiatif mendatangkan rupang Poo Seng Tay Tee, Dewa Pengobatan ke Semarang., hal tersebut sehubungan dengan wabah yang menjangkiti penduduk semarang. Dalam perjalanan ke Semarang, secara khusus disewakan kapal besar yang khusus hanya membawa rupang itu. Kemudian, waktu kapal tiba di pelabuhan Boom Lama diadakan upacara sembahyang penyambutan, lalu dengan dikawal rombongan Hweeshio, rupang itu diarak ke klenteng Tay Kak Sie setelah diarak keliling kota terlebih dahulu. Peristiwa itu jatuh pada tanggal 1 bulan 5 Imlik yang di kemudian hari diperingati setiap tahun dengan kirab dinamakan “Sam Poo kecil”.

Tahun Guangxu ke 16 bulan 3 atau pada Masehi 1890, di Tay Kak Sie dibentuk panitia pemugaran dan pengumpulan dana untuk menunjang kas Tji Lam Tjay. Personil panitia untuk dua usaha itu dipimpin oleh Liem Bie Liong dan Khoe Hong Eng sedangkan pengurus yayasan waktu itu adalah Go Tjhiang Koan, Liem Koei Teng, Oh Tjiauw Put, Tan Ngo San dan Liem Giok Seng. Seperti juga pada pemugaran sebelumnya, dari prasati yang ada di Tay Kak Sie pemugaran kali ini juga dapat diketahui nama penyumbang dan jumlah sumbangan yang diterima.

Tahun 1956, diprakarsai ketua Tji Lam Tjay waktu itu yakni Yauw A Lok, diadakan renovasi dan pembersihan rupang Hudco dan Kongco yang ada di Tay Kak Sie. Setelah usaha itu selesai, didatangkan rombongan Bikhu dari Bandung untuk mengadakan sembahyang besar. Kemudian, sekitar tahun 1979, di masa Go Thiam Bing menjadi ketua Yayasan Klenteng Besar Gg. Lombok – Tay Kak Sie, kepala naga yang ada di wuwungan depan klenteng patah dan jatuh ke bawah. Waktu itu, karena kesehatannya terus mundur, Go Thiam Bing merasa tak mungkin meneruskan kepemimpinannya sehingga mengundurkan diri. Sekitar tahun 1982, kepala naga yang patah diperbaiki oleh pengurus baru yang dipimpin yakni Li Kiang Dju. Karena perbaikan kurang sempurna, kerusakan tersebut bertambah parah setelah kepala naga yang ada di bagian wuwungan rusak setelah terjerat benang layang-layang.

Pada tahun 1992 perbaikan secara menyeluruh dilakukan dengan mengganti seluruh badan dan kepala naga dengan kepingan-kepingan keramik. Perbaikan ini berlangsung kira-kira setahun dan tahun berikutnya sudah tampak wuwungan klenteng dengan naga-naga yang baru. Sayang relief bunga dan binatang di sekitar wuwungan itu tidak mampu diperbaiki sehingga masih seperti semula.

Leave a Reply

Discover more from

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading