Dalam Xiangshan Baojuan (Gulungan Mustika Gunung Harum) menceritakan Guanyin Pusa bermanifestasi menjadi Putri Miao Shan, putri ke tiga dari Raja Miao Zhuang, penguasa negeri Xing Lin. Dilahirkan pada masa Dinasti Zhou Timur (770-256 SM), Miao Shan memiliki dua kakak perempuan yang bernama Miao Shu dan Miao Yin. Sang Raja sangat mendambakan anak laki-laki, namun yang dimiliki hanyalah tiga orang puteri. Raja Miao Zhuang juga terkenal sangat kejam dan bertangan besi dalam mengelola negaranya.
Puteri Miao Shan mendengar kabar Raja Miao Zhuang sakit parah, lalu menyamar menjadi seorang pendeta tua untuk datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktiannya, Puteri Miao Shan dapat melihat bahwa arwah AyahNya dibawa ke neraka terdalam dan mengalami siksaan yang hebat akibat perbuatannya selama hidup. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi keneraka untuk menolong. Pada saat menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan tersebut. Tiba di jembatan kelahiran kembali, sang Raja tetap tidak bisa melewatinya karena dosa-dosa yang terlalu banyak. Raja Akherat melihat ketulusan Puteri Miao Shan, akhirnya melepaskan sang Raja untuk reinkarnasi kembali ke dunia, namun menjadi seekor Kerbau, agar dapat menebus seluruh perbuatannya di kehidupan yang lampau. Puteri Miao Shan akhirnya dapat menerima hal ini dan bahagia sang Ayah telah dapat terlahir kembali.
Ketika ketiga puteri menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah malah meninggalkan istana dan memilih menjadi biksuni di kelenteng Bai Que Si. Perjalanan welas asih Puteri Miao Shan berbuat tulus dan baik untuk setiap makhluk hidup yang ia temui, membuat dirinya akhirnya bertemu dengan Sakyamuni Buddha, yang lalu menganjurkan Puteri untuk berlatih kesempurnaan di Gunung Pu Tuo.
Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu dan berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk puteri Miao Shan. Sakyamuni Buddha yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu terbut dan mengubahnya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan dengan gelar qian shou qianyan jiu ku jiu nan wu shang shi guan shi yin phu sa, yang berarti Bodhisatva Kwan Im penolong welas asih bertangan dan bermata seribu yang tiada banding.
Hari-hari yang diperingati:
- Imlek Bulan 2 tanggal 19 merupakan hari Kelahirannya
- Imlek bulan 6 tanggal 19 merupakan hari Kesempurnaan
- Imlek Bulan 9 tanggal 19 merupakan hari meninggalkan raga
Peran dan manfaat:
- Pelindung dari Bahaya dan Penderitaan
- Pendengar Doa dan Harapan
- Simbol Welas Asih Sejati (Karunā)
- Penuntun Spiritual Menuju Pencerahan
- Pemberi Berkah dan Keberuntungan
Sifat dan Karekteristik:
- Welas Asih Tanpa Batas (Karuṇā)
- Pendengar Suara Dunia
- Lembut tapi Teguh
- Bijaksana dan Penuh Kebijaksanaan (Prajñā)
- Mampu Bertransformasi (Upāya Kausalya)
- Penuh Pengampunan
- Sabar dan Tidak Mementingkan Diri
Kisah Terkenal:
- Kisah Putri Miao Shan (妙善公主) ,
- Menyelamatkan Para Pelaut,
- Pemberi Anak (Song Zi Guan Yin / 送子觀音),
- Guanyin Bertangan Seribu dan Bermata Seribu (千手千眼觀音)
Referensi: Buku Dewa-Dewi Tridharma
Editor: Dendang Sutikno





Leave a Reply