Yühuang Shangdi atau Kaisar Pualam adalah dewata dari kalangan Taoisme yang berkedudukan paling tinggi, hanya setingkat di bawah Sanqing. Namun, bagi kalangan rakyat jelata Yühuang merupakan dewata yang berkuasa atas semesta alam dan segala isinya sekaligus penguasa tertinggi. Dalam novel “Xi You Ji” atau “Perjalanan ke Barat”, dikisahkan bagaimana Yühuang bertahta di kahyangan dibantu para menterinya, yang terdiri atas malaikat langit atau Tian-shen 天神; malaikat bumi atau Di-qi 地祇; panglima langit atau Tian-jiang, seperti Tuota Tianwang 托塔天王, Nezha 哪吒 Julingshen 巨靈神, Er-shi-ba xiu二十八宿 atau 28 bintang dan lain-lain. la juga membawahi empat raja naga, malaikat halilintar dan raja akhirat Yanluo Wang 閻羅王. Itu sebabnya Yühuang selalu ditampilkan dengan pakaian kebesaran seorang kaisar zaman dinasti Qin atau Han dengan segala atributnya yang paling mewah.
Sebenarnya bukanlah sejak semula Yühuang ditempatkan sebagai penguasa langit tertinggi. Pada zaman sebelum dinasti Tang ia masih merupakan dewata yang menempati urutan ke-19 dalam jajaran para dewa di bawah Yuanshi Tianzun di kawasan surga Yüqing. Waktu itu beliau masih disebut Yühuang Daojun. Setelah dinasti Tang (abad ke-7) kedudukannya mulai naik, lalu pada zaman dinasti Song (960-1279), beliau menempati kedudukan tertinggi dan disebut Yühuang Shangdi. Kaisar Song Zhenzong bahkan menganugerahinya gelar Haotian Jinque Zhizun Yühuang
Shangdi 昊天金闕至尊玉皇大帝(kaisar pualam yang berkedudukan di angkasa agung dan paling termulia).
Pemberian gelar ini berlangsung pada bulan 1 tanggal 9 tahun Xiangfu ke-8 (tahun 1015), tanggal ini kemudian dianggap sebagai hari-lahir Yühuang dan dirayakan dengan meriah di berbagai kelenteng di seluruh negeri. Kedudukan yang tinggi ini ditempati bersama-sama dengan tiga dewata besar yang lain, yaitu Beiji 北極, Gouchen 勾陳 dan Houtu后土。
Keempatnya secara bersama disebut Siyü 四御 atau Empat Maharaja Baginda, hanya setingkat lebih rendah dari Sanqing yang merupakan dewata tertinggi kaum Taois.
Di kalangan rakyat beredar cerita bahwa sebenarnya Yühuang bermarga Zhang 張. Konon, di kawasan langit agung ada negeri yang disebut Guangyan Miaoleguo. Rajanya bernama Jing Di dan permaisurinya Bao Yueguang. Walaupun telah mencapai usia senja mereka belum mempunyai keturunan dan masalah ini menggelisahkan mereka.
Suatu hari datanglah dua orang pertapa agung, yang seorang mengaku bernama Huang Lao (sesungguhnya adalah Zong-huang-zi, salah satu dari lima tetua yang telah ada pada pembukaan alam semesta), dan yang seorang lagi adalah Yuanshi (sesungguhnya adalah Yuanshi Tianzun, salah satu dari Sanqing). Melihat raja dan permaisuri berwatak bajik dan benar-benar telah melaksanakan Tao, kedua orang suci itu memutuskan memberi mereka seorang putera yang sangat didambakan. Dengan hembusan hawa murni, mereka menciptakan seorang bayi laki-laki yang cakap lalu menyerahkannya ke haribaan permaisuri. Melihat kehadiran bayi gaib itu, raja dan permaisuri segera berlutut mengucapkan terima kasih. Hari itu bertepatan jatuh pada tanggal 9 bulan 1 Imlek yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Yühuang, sang bayi ajaib. Sejak kecil ia sangat cerdik dan telah menunjukkan hati yang penuh kebajikan serta berwatak mulia. Kebajikannya terus tumbuh hingga ia dewasa
la sering menolong orang-orang miskin dan lapar. Setelah ayah-bundanya meninggal sang pangeran menggantikannya sebagai raja dan memerintah dengan bijaksana. Rupanya beliau tak ingin lama bertahta, setelah menyerahkan kekuasaannya kepada perdana menteri, beliau lalu pergi bertapa ke gunung. Beberapa ribu kalpa kemudian beliau diangkat menjadi Yühuang Shangdi.
Ada cerita lain yang beredar luas di masyarakat tentang asal-usul Yühuang. Guna mencari seorang berbudi baik untuk diangkat menjadi seorang mahadewa penguasa tiga alam (alam dewa, alam manusia serta alam baka) Yuanshi Tianzun menitahkan Taibai Jinxing 太白金星,seorang dewa bintang turun ke dunia mencari seorang calon yang sesuai.
Taibai lalu turun ke dunia menyamar sebagai seorang pengemis dan tiba di suatu desa dekat pantai. Adalah seorang bernama Zhang Youren 張友人,ia sangat sabar dan suka mengalah, maka ia disebut Zhang Bairen 張白忍 (Zhang yang sabar luar biasa). la selalu adil memperlakukan orang, suka menolong siapa saja yang menderita kemalangan. Seluruh desa menganggapnya sebagai seorang yang sangat mulia hatinya. Sang pengemis berkeputusan menemui Zhang, siapa tahu ia merupakan calon pilihan yang sedang dicarinya.
Sesampai di depan rumah Zhang Bairen sang pengemis jatuh pingsan kelelahan. Ternyata pengemis ini telah berlaku sangat aneh. Walau lapar setengah mati setiap bertemu orang ia selalu minta diberi kuah ginseng. Tentu saja permintaan seperti ini sukar dipenuhi. Akhirnya ia jatuh pingsan kelaparan. Zhang Bairen yang melihatnya lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di atas pembaringan. la mengurut tubuh sang pengemis dengan penuh perhatian dan memberinya minum. Setelah siuman, Zhang menyediakan arak dan daging yang segera dilahap dengan rakus oleh sang pengemis. Sehabis makan, ia minta kuah ginseng. Zhang tidak marah, dengan sabar ia mengabulkan permintaan sang pengemis.
Direbusnya sebatang akar ginseng dan dihidangkan. Sang pengemis tinggal di sana selama sebulan lebih. Selama itu ia tetap diperlakukan dengan hormat. Makan semeja dan tidur pun satu pembaringan layaknya saudara kandung. Sang pengemis akhirnya menyadari bahwa Zhang Bairen berhati sangat mulia. la membuka penyamarannya dan minta Zhang ikut ke langit untuk dijadikan raja para dewa.
Mulanya Zhang menolak dengan keras, tapi akhirnya setuju setelah mengetahui yang berbicara di hadapannya adalah Taibai Jinxing. Demikianlah akhirnya Zhang Bairen, karena kebajikan dan kebijaksanaannya, diangkat menjadi raja para dewa. Ternyata pilihan ini tidak salah. Ketiga alam diatur dan ditata begitu rapi dan apik oleh Zhang Bairen. la sangat dihormati dan dicintai, seluruh penghuni tiga alam menghendaki agar Zhang dikukuhkan menjadi kaisar seumur hidup. Karena kesuciannya ibarat batu kumala tidak bernoda, beliau disebut Yu-di 玉帝(kaisar pualam) atau Yühuang Shangdi atau Zhang Yudi. Kisah ini dimuat dalam kitab kuno “Asal-usul Para Malaikat” 諸神由來,
Sejak zaman dinasti Shang dan Zhou pemujaan kepada malaikat yang berkedudukan tertinggi telah merata. Namun, pada masa itu apa dan siapa yang dipuja di kalangan rakyat, di kalangan kerajaan dan di kalangan kaum Taois belum ada kesamaan sebutan. Dokumen sejarah pada sebelum zaman Qin banyak mencatat bahwa sebutan untuk dewa tertinggi ada beberapa macam, yaitu Tian 天, Huangtian 皇天,Di帝,Shangdi 上帝, Huangtian Shangdi 皇天上帝, Haotian Shangdi 昊天上帝 dan lain-lain. Mulai zaman Tang dan Song berdasarkan agama yang beredar di kalangan rakyat dan pejabat kerajaan, kaum Taois menyeragamkan sebutan Yühuang Shangdi 玉皇大帝untuk dewa tertinggi. Panggilan ini akhirnya diterima oleh umum. Secara resmi Yühuang Shangdi menjadi pujaan kalangan kerajaan mulai pada masa pemerintahan kaisar Song Zhenzong yang menetapkan agenda sembahyang kerajaan. untuknya. Pada tahun 1005 kaisar Song Zhenzong harus menandatangani kapitulasi damai dengan suku Tungus (Jitan). Hal ini sangat memalukan dan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat dan dikhawatirkan wibawa kerajaan akan merosot. Untuk menenangkan masyarakat kaisar berlaku seakan-akan ia bisa melakukan hubungan langsung dengan para dewata di langit.
Suatu hari pada bulan ke-10 tahun 1012 dikumpulkannya semua menterinya lalu ia berkata: “Dalam mimpi seorang dewa telah datang kepadaku membawa sepucuk surat dari Yühuang Shangdi dan mengatakan bahwa leluhurku akan datang sendiri dan dipertemukan dengan aku.” Sungguh ajaib, apa yang dikatakannya menjadi kenyataan. Almarhum kaisar Taizu (pendiri kerajaan Song) tiba-tiba muncul di hadapannya. Kaisar terkejut dan heran. Sejak itu ia mulai melakukan sembahyang kepada Yühuang Shangdi dan mengumumkannya melalui surat keputusan kerajaan.
Bagi kaum Taois, Yühuang Shangdi merupakan salah satu malaikat yang berkedudukan tinggi, maka di klenteng-klenteng terkemuka yang bercorak Taois pasti ada altar pemujaannya. Di Tiongkok pada masa lalu sedikitnya ada 20 klenteng pemujaan Yühuang, yang paling terkenal adalah kuil Baiyünguan 白雲觀. Di altar utama tempat Yühuang ditahtakan, terdapat panji-panji yang berisi pujian dari Ibu suri Cixi pada waktu merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Arca Yühuang juga biasanya didampingi oleh 6 malaikat bintang selatan dan 7 malaikat bintang utara, 36 perwira, 28 bintang serta 4 jenderal langit.
Selain tanggal 9 bulan 1 Imlek yang ditetapkan sebagai hari kelahirannya, kaum Taois juga melakukan upacara perayaan Yühuang Shangdi pada tanggal 25 bulan 12 Imlek dengan mengadakan prosesi mengusung arca Yühuang berkeliling kota.
Perayaan itu dianggap sebagai hari di mana Yühuang mengadakan peninjauan turun ke alam bawah, sebab itu perayaannya diadakan dengan agung dan mewah. Kebiasaan yang berasal dari suku Han di Tiongkok ini kemudian banyak ditiru oleh suku-suku minoritas lain dan menyebar ke Asia Tenggara di mana kaum banyak bermukim perantau Tionghoa.
Referensi : Buku Dewa Dewi Dalam Kepercayaan Tionghoa



Leave a Reply