Simbol/lambang Tridharma/Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma se-Indonesia berbentuk Cu/Penerangan Sempurna yang di dalamnya terdapat simbol agama Tao, Confucius-Ji dan Buddha, di dalam/dilatarbelakangi teratai putih.
Simbol diwarnai menurut warna dari lima macam unsur alam dan disusun menurut perkembangan jalannya lima unsur tersebut, satu sama lain saling menimbulkan/ menghidupkan (Sian/Sen).
Lima unsur tersebut yaitu kayu (hijau), timbul api (merah), dari api timbul tanah (kuning), dari tanah timbul logam (putih), dari logam timbul air (hitam), dan dari air timbul kayu, dan seterusnya.
Simbol ini dilukiskan dengan skala paten. Ukuran dari masing-masing bagian dapat dibagi tiga. Angka tiga ini mengandung arti Tridharma, tiga sari (Tao), tiga ikatan (Confucius-Ji), tiga perlindungan (Buddha) dan tri-tunggal, dan lain-lain.
Di luar gambar Dai Chi (9 cm) terdapat lingkaran hijau (tebal 3 mm), yang diartikan pancaran hijau (masa jaman sebelum Sam Tay, 2205 SM, Tao diturunkan pada raja-raja dan menteri-menteri besar saja, seorang menurunkan kepada seorang).
Gambar Tigan/Wang (18 cm), yang dilukiskan di tengah-tengah antara gambar Dai Chi (9 cm) dan Swastika (21 cm) diwarnai merah, yang diartikan pancaran merah (masa setelah jaman Sam Tay, Tao diturunkan ke perguruan lalu berturut-turut ada tiga agama, yaitu agama Tao, agama Confucius-Ji dan agama Buddha, yang masing-masing mempunyai wilayah sendiri-sendiri).
Gambar Teratai (30 cm), yang dilukiskan di belakang gambar simbol Tridharma (Dai Chi, Tigan/Wang, Swastika), diwarnai putih yang diartikan pancaran putih (masa kini kesusilaan makin merosot, timbul juga bencana dahsyat seolah-olah dunia tidak utuh lagi. Ta Tao (Ketuhanan) diajarkan pada semua manusia dan tiap-tiap orang mendapat kesempatan mencapai penerangan sempurna)
Gambar Dai Chi adalah simbol dari agama Tao. Dai Chi klimaks/puncak sangat melambangkan dualisme/dua sifat yang berlainan, timbul dari satu sumber kebenaran, adanya yang satu menunjukkan yang lain dan saling bergantungan, bila terpadu secara harmonis, terwujudlah/tampaklah kebenaran yang hakiki/sejati, mengandung makna dinamis/dinamika dan mujijat
Gambar Tigan/Wang adalah simbol dari agama Confucius-Ji. Tigan/Wang merupakan grafik simbolisa pertalian tiga unsur besar yang mudah dapat dimengerti, tidak saja mengandung arti awal mula jaman, tetapi juga perkembangannya, dan akhirnya, serta pula pengarahannya.
Pertalian dari tiga garis grafik ini melambangkan dan meringkas semua isi pelajaran kuno, meringkas semua proses genetik dari Siandian sampai Hodian, termasuk semua yang diajarkan oleh Confucius.
Gambar Swastika adalah simbol dari agama Buddha. (Swastika merupakan jalannya kehidupan yang terus-menerus dalam bentuk yang bagaimanapun juga. Samsara adalah suatu alat untuk menempuh jalan kebahagiaan. Perkataan Swastika berarti sesuatu yang dapat membahagiakan.
Gambar teratai putih melambangkan kesucian dan kebijaksanaan yang telah terbuka dan naik ke atas, yang terpisah dari kotoran-kotoan di sekelilingnya, yang digambarkan di belakang ketiga simbol agama dan Tridaharma (agama Tao, agama Confucius-Ji dan agama Buddha), yang mempunyai arti bahwa berdasarkan bimbingan ajaran Tridharma, akan menjadi suci dan ajaran ketiga agama tersebut adalah ajaran nurani yang suci murni.
Gambar bulatan (36 cm) berwarna kuning di luar gambar teratai putih, diartikan tengah sempurna/keutuhan/kebenaran sejati.
Warna kuning (tanah) menurut susunan lima unsur alam letaknya di tengah, menurut panca budi adalah dapat dipercaya. Menurut Pancasila, Buddhis adalah pantang berdusta, bermakna percaya/yakin pada kebenaran sejati.
Gambar bulatan tersebut mempunyai arti:
Berkat bunga yang suci pasti berhasil menjadi buah yang suci sesuai dengan sifat dasar yang suci.
Juga diartikan:
Bola dunia secara lebih mendalam alam semesta dan pelajaran Tridharma senantiasa berada di dalamnya dan utuh adanya.
Gambar lingkaran kuning emas (tebal 3 mm) di luar bulatan kuning, melambangkan permulaannya dari langit dan bumi, suatu keadaan yang tidak termakna yang sebenarnya tidak tampat suatu benda apapun, keadaan tanpa bau dan tanpa suara, sungguh kosong dan mujijat.
Oleh Lao Tse dikatakan: tiada nama itulah permulaannya langit dan bumi yang digambarkan lingkaran (O) sebagai lambangnya.
Titik as–tengah dari gambar Dai Chi yang juga merupakan as–tengah simbol agama Tao, agama Confucius-Ji dan agama Buddha yang tidak dilukiskan diartikan guratan (_____) sebagai lambang dari adanya nama yang merupakan induk dari semua benda yang memendek dan menciut, tersembunyi pada yang paling jelimet ( . ).
Ketiga gambar simbol digambarkan atas satu as-tengah yang mempunyai arti bahwa:
Tridharma didirikan atas satu hakekat yang merupakan suatu perpaduan yang harmonis satu sama lain, saling memperkaya, merupakan kesatuan yang tidak dipisah-pisahkan dan digambarkan sesuai dengan urutan waktu ketiga pelajaran itu diturunkan ke dunia, yaitu agama Tao yang terdahulu, kemudian agama Confucius-Ji, selanjutnya agama Buddha dan yang depan agak kecil dari yang belakang. Hal tersebut guna menyatakan bahwa dalam pembuatan simbol itu tidak berat sebelah (netral/seimbang). Karena walaupun dilukiskan di belakang tapi agak besar dilukiskan di depan karena memang lebih dahulu diturunkan.
Gambar pancaran di luar gambar lingkaran kuning emas, terdiri dari 18 kelompok yang masing-masing terdiri dari lima kelompok kecil yang diwarnai lima warna yang mengandung arti lima unsur alam dalam agama Tao, Panca Budi dalam agama Confucius-Ji, Panca Sila dalam agama Buddha.
Angka delapan belas (18 – 18 – 1 + 8 = 9) bila dipisahkan dan selanjutnya ditambahkan menjadi sembilan, mengandung arti jadi, yang diartikan berkat melaksanakan pelajaran tersebut akan jadi/berhasil. Delapan belas bila dikalikan dengan lima menjadi sembilan puluh, dan bila dipisahkan sembilan mengandung arti jadi, sepuluh mengandung arti sempurna. Maka arti kata jadi di atas ialah mencapai kesempurnaan hidup (18 x 5 = 90 – 9 0).
Gambaran pancaran yang diwarnai lima warna melambangkan semangat umat Tridharma yang dilandasi lima pangkal kesucian merangkap semua kebajikan. Secara lebih mendalam gambar cu/penerangan sempurna/pancaran yang membentuk lingga api timbul dari bunga teratai melambangkan Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan yang tercatat di Kitab Svayambau Purana, yang pernah terjadi perwujudan lingga api keluar dari bunga teratai di Nepal dekat kota Katmandu.
Gambar lingga api/cu ini digambarkan dengan ukuran 49 cm dari bagian bawah ke bagian yang teratas. Bila angka empat sembilan dipisahkan lalu ditambahkan, menjadi tiga belas (49 – 4 9 – 4 + 9 = 13) angka tiga belas dipisahkan. Satu diartikan Ik Ji (hakekat/rasional) hawa asal dari alam tiada puncak).
Tiga diartikan San Jing (tiga sari) mengandung arti: Ik Ji Fua San Jing (merupakan permulaan dan perkembangan alam tiada puncak/U Chi).
Bila angka empat sembilan dipisahkan, lalu dikalikan menjadi tiga enam (49 – 4 9 – 4 x 9 = 36). Dan bila angka tersebut dipisahkan dan dijumlahkan mendapatkan sembilan (36 – 3 6 – 3 + 6 = 9).
Sebenarya Tuhan adalah Yang Maha Sempurna, tidak digunakan angka sepuluh yang mengandung arti sempurna, tapi digunakan sembilan yang mengandung arti jadi. Hal ini disesuaikan dengan kebenaran bahwa Tao yang dapat dikatakan bukan Tao yang sejadi mutlak, apalagi dilukiskan.
Namun diperlukannya suatu simbol Tridharma yang melambangkan kebenaran sesuai makna yang terkandung di didalam Tridharma bagi kita, maka telah dibuat simbol Tridharma tersebut.
Simbol Tridharma beserta penjelasan yang dapat kita jelaskan juga sangat terbatas kalau dibandingkan makna yang terkandung di dalam Tridharma itu. Karena Tridharma adalah pelajaran yang membabarkan/menjelaskan tentang Ketuhanan yang bersifat tidak terbatas dan utuh.
Untuk mengerti makna yang terkandung pada simbol Tridharma yang melambangkan kebenaran sejati, memerlukan banyak perenungan yang mendalam.
Penambahan Angka “67” menunjukkan identitas baru sekaligus tahun kelahiran dari Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma Se-Indonesia, kependekan dari tahun 1967 dengan hanya dituliskan 67 saja. Hal ini menunjukkan bahwa Perhimpunan ini adalah kelanjutan dari Perhimpunan yang telah ada, tidak ada akar organisasi yang dilewatkan, seluruhnya merupakan proses kedewasaan Perhimpunan menghadapi perubahan jaman dan tetap dapat memberikan kontribusi nyata untuk umat Tridharma pada khususnya dan Bangsa Negara pada umumnya.
Demikian penjelasan mengenai simbol/lambang Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma Se-Indonesia Enam Tujuh yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma Se-Indonesia Enam Tujuh.
Keterangan Logo MARTRISIA 67
Simbol/Lambang Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia 67 dirancang untuk merepresentasikan nilai-nilai luhur, spiritualitas, dan jati diri keagamaan komunitas Tridharma di Indonesia.
🟢 Makna Unsur-Unsur Logo
Lingkaran Hijau Ganda
Melambangkan keselarasan, perlindungan, dan kesinambungan ajaran Tridharma di seluruh wilayah Nusantara.
Warna hijau merepresentasikan kedamaian, kehidupan, dan pertumbuhan spiritual.
Tulisan “MAJELIS ROHANIWAN TRIDHARMA – SELURUH INDONESIA 67”
Menunjukkan identitas organisasi nasional yang mewadahi rohaniwan Tridharma dari berbagai daerah.
Angka 67 merujuk pada tahun berdirinya Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma Se-Indonesia, yaitu tahun 1967.
Simbol Yin-Yang
Mewakili ajaran Taoisme, khususnya prinsip keseimbangan antara dua kekuatan yang saling melengkapi: Yin (gelap, pasif) dan Yang (terang, aktif).
Simbol ini melambangkan keseimbangan kosmis, harmoni alam dan manusia.
Simbol Swastika Warna Kuning
Melambangkan ajaran Buddha, yaitu kebenaran universal, keberuntungan, dan dharma (jalan kebijaksanaan).
Warna kuning melambangkan kebijaksanaan, kemuliaan, dan pencerahan spiritual.
Simbol Genta warna Merah
Melambangkan ajaran Khonghucu, dimana keyakinan bahwa Nabi Khonghucu diutus Thian untuk menyebarkan ajaranNya.
Simbol ini juga dapat diartikan Kelenteng/Tempat ibadat Tridharma sebagai pusat pembinaan rohani dan budaya
Gambar Kitab Terbuka
Kitab terbuka menggambarkan pengetahuan suci dan keterbukaan untuk belajar serta mengajar Dharma.
Kitab terbuka yang terdapat 3 simbol utama mengartikan pembelajaran dharma dari 3 ajaran mulia (Tao, Khonghucu dan Buddha).
Bunga Teratai Merah
Melambangkan kesucian, pencerahan, dan kebangkitan spiritual meskipun tumbuh dari lumpur duniawi.
Warna merah menggambarkan semangat, keberanian, dan cinta kasih.
Sinar Emas Melingkari Logo
Menandakan cahaya Dharma yang memancar dari pusat kebijaksanaan, memberikan penerangan batin bagi seluruh umat manusia.
Logo MARTRISIA 67 merupakan representasi visual dari tiga ajaran luhur Tridharma (Tao, Khonghucu, dan Buddha) yang menyatu dalam semangat pelayanan rohani, pengabdian terhadap bangsa, dan pelestarian budaya leluhur Tionghoa di Indonesia.
Logo ini juga menjadi lambang kesatuan umat Tridharma, bimbingan spiritual yang terang, dan perjuangan menuju harmoni antar manusia dan alam.
Leave a Reply